Postingan

Menyusun Kerangka Novel

Nama : Atheera Naura Nabiqho Kelas  : XII MIPA 9 Absen : 04 Disusun untuk memenuhi salah satu tugas Bahasa Indonesia Kerangka Novel "Reveal" Tema Misteri, persahabatan, pengkhianatan, tragedi Judul Reveal Tokoh dan Perwatakan Levi : Nakal, pemalas, maniak game, jahil, cerdik, pemberani Juno : blak-blakan, pemberani, nakal, pengkhianat Lyon : nakal, maniak game, humoris, cerdik Ervin : jiwa pemimpin yang kuat, cerdik Jiro : penakut, tidak punya pendirian Giyan : maniak game, nakal Taksa  : baik, penolong, usil Armin : jiwa pemimpin kuat, pemberani, jiwa keadilan kuat Darren  : baik, penolong, usil Eden : emosian, pemberani, cerdik Ithar : penasihat Sakha  : manipulatif, munafik Firhan  : nakal, jahil Jasper : cerdik, usil Ansen : jiwa pemimpin kuat   Alur Novel ini menggunakan alur maju-mundur Latar  Latar tempat  SMA Adhitama Rumah Armin Latar waktu Pagi Malam Latar suasana Tegang Senang Sedih  Canggung Amanat - Jangan menilai dan berburuk sa...

TEKS KRITIK SASTRA DAN ESAI

Gambar
Nama : Atheera Naura Nabiqho Kelas  : XII MIPA 9 Absen : 04 Disusun untuk memenuhi salah satu tugas Bahasa Indonesia Teks Kritik Sastra                        Kritik Sastra Novel                        "Dunia Cecilia"                            Oleh : Atheera Naura Nabiqho                                  "Dunia Cecilia" merupakan sebuah karya fiksi yang ditulis oleh Jostein Gaarder yang berasal dari Norwegia. Karya-karya tulisnya banyak bergandengan dengan 'dunia' filsafat. Salah satu karya tulis filsafatnya yang mendunia yaitu "Dunia Sophie". Di  samping itu, novel "Dunia Cecilia" berhasil memenangi Norwegian Bookseller Prize dan sudah dibentuk ke dalam film yang juga memenangi Amanda Award , anugerah te...

Teks Editorial

Nama : Atheera Naura Nabiqho Kelas : XII MIPA 9  Absen : 04 Jiwa Sehat, Negara Kuat Tidak ada sehat tanpa jiwa yang sehat. Meski sering digaungkan, banyak dirasakan, khususnya selama pandemi, dan dampaknya nyata di depan mata, kesehatan jiwa masih menjadi hal yang jauh bagi kita. Kekurang pahaman, stigma, dan terbatasnya akses masih jadi persoalan besar. Sebelum Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Covid-19 sebagai pandemi pada 11 Maret 2020, para ahli sudah mengkhawatirkan menyebar luasnya kecemasan akibatnya masifnya informasi, baik benar maupun keliru, tentang penyakit baru tersebut. Saat lonjakan kasus berlangsung yang disertai pemberlakuan pembatasan mobilitas masyarakat ataupun karantina wilayah, kecemasan itu terasa nyata. Belum lagi kabar soal kematian, yang banyak beredar di berbagai media sosial, grup percakapan, dan informasi komunitas. Kini, saat kasus positif Covid-19 mulai melandai di banyak negara, kecemasan itu masih ada. Bahkan, pada sebagian orang berkemban...